INTERVIEW

Loading

Esoknya.

“Oke Pak Aku, kita lanjut lagi ya tanya-tanyanya, minta tolong dibantu ya Pak Aku.”

“Kayanya kok ga enak Mas, manggil Paku sama saya.”

“Bukan Paku tapi Pak Aku.”

“Iya, tapi kedengerannya ga enak gitu Mas.”

“Baik, bagai mana kalau Mas Aku?”

“Kaya iklan bumbu masak.”

“Baik Pak, saya ga ada waktu seharian hanya untuk masalah itu, sekarang saya mau tanya lagi.”

“Baik Mas.”

“Alamat Bapak di mana?”

“Bapak saya sudah meninggal Mas, di kuburan sekarang dia.”

“Iya, iya, iyaaaa, maaf saya yang salah, maksud saya Pak Aku tinggal di mana?”

“Kayanya ga enak deh Mas, kalo saya dipanggil Paku.”

“Astaghfirullah, kasih sabar ya Allah, maaf Pak, tolong fokus ke pertanyaannya aja ya, kamu! sekarang tinggal di mana?”

“Di tanya Mas.”

“Iya saya nanya ini Pak! saya nanyak, saya bertanyak-tanyaaaak! aduh jantung saya bisa jebol ini pak!”

“Loh, hati-hati Mas, kalo jantungnya jebol nanti Masnya bisa mati loh.”

“Iya Pak, terima kasih atas peringatannya, sekarang kita kembali ke pertanyaannya ya Pak, oke bisa yuk, bisa, bapak Aku sekarang tinggalnya di mana?”

“Loh, Masnya kok nanya sama saya sih? mana saya tau Bapak Mas tinggalnya di mana?”

“Engga, engga, enggaaak gitu pertanyaannya! bukan Bapak saya dooooong, aduh gimana sih ini?”

“Saya juga bingung ini malah Mas.”

“Kamu! tinggal di mana?”

“Ya di Tanyalah Mas.”

“Aduh, ya ampun! iya saya ini nanya kamu! saya nanya kamu alamat rumahnya di mana!”

“Alamat Rumah saya itu di Desa Tanya, Kelurahan Cobong, RT 007/ RW 08, Mas.”

“Mas! Mas! Wey mas kok pingsan sih?”