WARUNG EKSEKUTIF

Loading

Facebook Ahmad Mustopa

 

Oleh : Ahmad Mustopa

“Warung itu jualannya mahal banget, di mana-mana kopi sachet cuma seribu lima ratus di dia dua ribu, parah.” Aida ngedumel ketika pulang dari warung untuk membeli kopi.

“Ya jangan beli di sana lagi dong Bu.” ujar Barja yang sudah siap dengan jaket ojek onlinenya.

“Sebenarnya males beli di sana Pak, tapi warung paling deket di situ.” Aida berikan kopi pada suaminya.

Sorenya ketika Barja pulang ngojek ia ke warung dekat rumahnya itu.

Di sana terlihat ada seorang ibu yang menggendong anak balitanya, Rini dan anaknya Pipit.

“Jadi semuanya berapa Bu?” Tanya wanita kurus itu pada pemilik warung.

“Beras seliter dua belas ribu, deterjen seribu lima ratus, penyedap rasa seribu, kecap tiga ribu lima ratus sama roti itu tiga ribu, jadi semuanya dua puluh satu ribu.” Wanita gemuk yang mirip toko emas berjalan itu menunjuk roti yang di pegang Pipit.

“Wah uangnya kurang Bu, saya cuma ada tujuh belas ribu, sisanya nanti ya Bu Galih.” Rini sodorkan uang pada Bu Galih pemilik warung.

“Maaf Rin, gua ga ngutangin, nanti satu orang dihutangin sekampung pada ngutang semua.”