![]()
“Ya udah rotinya sama penyedapnya ga jadi deh.” Rini mengambil roti dari tangan anak usia setahun itu, hingga membuat Pipit menangis kejer.
“Udah saya yang bayar itu rotinya.” Barja keluarkan uang dari sakunya dan memberikan pada Bu Galih.
Bu Galih rumahnya terlihat lebih mentereng diantara rumah-rumah lainnya.
Ia membuka warung sembako di depan rumahnya walau suaminya adalah seorang pengusaha yang lumayan sukses.
Pagi-pagi terdengar suara Bu Galih ngomel-ngomel di depan warung sembakonya.
“Dasar maling! gua laporin nih! pasti gua laporin! abis semua dagangan gua! liat aja bakalan masuk penjara loe!”
Teralis Warung Bu Galih terlihat jebol bekas dibongkar paksa, dan isi di dalamnya habis tak tersisa.
“Semua diambil! sampe ikan asin cucut bang Ahmad Mustopa yang sekilonya empat puluh ribu juga di colong abis! dasar maling gragas!”
Bu Galih tak henti-hentinya mengumpat.
“Pak?” Aida memandang suaminya yang sedang asik ngopi sambil mendengarkan teriakan dari Bu Galih yang warungnya tak jauh dari rumah Barja.
Barja hanya menoleh pada Aida sambil tersenyum.
Tamat.