SEMANGKUK OPOR AYAM

Loading

“Bukan ndak dikasih makan, Mbak. Emang anaknya agak susah soal makan,” timpalku, berusaha biasa saja menanggapi ucapannya yang selalu terasa nyelekit di hati.
“Ya, makanya. Kamu beliin dia vitamin, buat nambah nafsu makan. Lagian, gimana anak mau enak makan. Kalo tiap hari yang kamu masak ikan asin lagi, tempe, tahu, kangkung. Coba sesekali masakin dia yang enak.”

Aku diam, tak lagi menanggapi ucapan Mbak Nurma. Sebab, mau menimpali pun rasanya percuma. Akan selalu ada kalimat nggak enak, yang dia lontarkan. Lagian, orang tua mana, sih, yang tak ingin memberikan yang terbaik dalam segala hal, termasuk soal makanan untuk anaknya? Aku ingin, tapi keadaan yang memang tidak memungkinkan.
Masih bisa bertemu makanan esok hari saja, itu sudah jadi nikmat yang luar biasa untukku dan keluaga.

“Bu. Ibu, kok, nangis? Maafin Yumna, ya. Yumna nggak apa-apa, kok, sahur pake opor telur. Jadi, ibu jangan nangis.” Ucapan Yumna itu, berhasil menyentakku dari lamunan. Ternyata tanpa sadar, aku sedikit terisak di bahu kecilnya.
Dengan cepat aku menyeka air mata. Lalu mengurai pelukan, dan tersenyum saat kembali berhadapan dengan Yumna.
“Ibu baik-baik aja, kok. Ibu cuma terharu, punya anak sehebat Yumna. Ya udah, Yumna mandi, gih. Terus ke mushola buat ngaji. Bentar lagi bapak juga pulang,” tuturku, mengelus kepalanya dengan sayang.

Sepeninggal Yumna, aku langsung menyalakan tungku, untuk merebus telur. Telur yang kudapat dari hasil menebalkan muka di hadapan pemilik warung. Iya, hasil ngutang. Padahal hutang yang dua bulan lalu saja baru aku bayar separuh.
Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau tidak begini. Sahur nanti aku hanya bisa menyuguhkan nasi dan ikan asin teri sisa tadi pagi.
“Maaf, ya, Bu Hajah. Kalo saya sudah ngutang lagi, padahal hutang kemaren aja belum saya lunasi,” ucapku, diiringi kekehan tak enak hati.
“Iya, nggak apa-apa, Num. Santai aja, yang penting kan, dibayar.”
Untungnya, pemilik warung selalu berbaik hati. Tidak pernah melabrak, atau membicarakanku pada tetangga yang lain, prihal hutang-hutangku. Mungkin, hanya sesekali beliau mengingatkan. Dan menurutku itu hal yang wajar.