![]()

Oleh : Hana Jasmine
“Ibu ndak masak opor, buat sahur nanti?”
“Masak, kok,” ucapku, sembari mengangkat kantung plastik berisi lima butir telur ayam.
“Kok, telur? Temen-temen yang lain, lho, ibunya masak daging ayam. Tadi, waktu lewat rumah Bude Nurma juga wangi opor ayam. Kan, aku juga pengen makan ayam, Bu,” ungkap Yumna, putri semata wayangku yang baru berusia enam tahun.
Aku berjongkok di hadapannya, sembari mengulas senyum manis yang sedikit dipaksakan.
“Iya, nanti pasti ibu masak opor ayam yang enak buat Yumna. Tapi, bukan hari ini. Nggak apa-apa, kan? Sahur nanti, kita makan opor telur dulu, ya. Kan, telur juga bagian dari ayam,” tukasku, sembari tekekeh. Mencoba menghibur Yumna, meski dada rasanya sesak luar biasa.
“Tapi, kan, rasanya beda,” lirihnya, seraya menunduk lesu.
Aku yang tak tega, langsung memeluk tubuh kecilnya. Yumna, memang memiliki ukuran tubuh yang sedikit berbeda dari teman-teman seusianya. Makanya, tak jarang para tetangga menyebut putriku itu seperti anak yang kekurangan gizi. Bahkan Mbak Nurma, kakak perempuanku pun pernah mengatakan hal yang sama.
“Anakmu itu kayak nggak pernah dikasih makan, lho. Terlalu kerempeng buat anak seumuran dia,” cetus Mbak Nurma, saat itu.
Ketika aku membantunya menyiapkan makanan, untuk para pekerja yang sedang merenovasi rumahnya.