SEMANGKUK OPOR AYAM

Loading

****
“Maaf, ya, Num. Mas ndak bawa uang. Upah dari Pak Tono, katanya dibayar besok. Soalnya beliau belum ke ATM.”
Nasib orang kecil, pasti begini. Hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi. Mereka yang menggunakan jasa Mas Estu, suamiku, untuk membersihkan ladang, atau sawah-sawah mereka. Sering kali upahnya tak langsung dibayarkan, padahal mereka minta pekerjaanya cepat diselesaikan. Dan paling parahnya adalah, kadang upah yang diberikan nggak sesuai dengan kesepakatan.
Di saat aku mau perotes. Mas Estu selalu melarang.

“Sudah, ndak apa-apa. Mungkin emang rezeki kita segini,” katanya.
“Ndak bisa gitu, dong, Mas. Kalo kayak gini, itu namanya mereka ndak bisa menghargai tenagamu,” tukasku, jengkel.
Siapa yang nggak jengkel. Melihat suami kita kerja keras di bawah terik, lalu diberi upah seenaknya. Bahkan pernah ada yang lupa memberi upah, sampai harus aku minta langsung ke rumahnya.
“Harusnya upah yang mereka kasih lebih dari ini, Mas.”

“Ndak apa-apa, Dek. Mungkin, emang rezeki yang Allah ridhoi, ya, segini. Untuk apa punya uang banyak, tapi ndak ada ridho Allah di dalamnya.”
Kalau sudah begitu. Aku langsung diam, dan beristighfar.
Selain menjadi kuli di ladang atau sawah tetangga. Mas Estu pun biasa jadi porter, atau kuli panggul di stasiun. Tentu saja, upah yang didapat pun nggak pernah pasti. Terkadang, upah yang didapat alhamdulillah, cukup untuk mencicil hutang, dan menyambung hidup selama beberapa hari. Tapi, pernah juga nggak dapat sama sekali. Dan, kalau habis Magrib, Mas Estu akan lanjut mengajar ngaji anak-anak di musala.