SEMANGKUK OPOR AYAM

Loading

***
“Kenapa? Kamu mau?” tanya Mbak Nurma, saat tak sengaja aku melirik ke arah belanganya yang berisi opor ayam.
“Kalo dikasih, ya, ndak nolak, Mbak,” kekehku, menatapnya yang memasang wajah menyebalkan.
Kalau nggak ingat Yumna. Aku akan langsung menolak tawarannya. Sebab, terkadang aku seperti pengemis di rumah kakak sendiri. Padahal, pada tetangga yang lain, Mbak Nurma begitu ringan tangan, suka memberi.

Tak jarang, para tetangga mengadu padaku diberi ini itu oleh Mbak Nurma. Lalu saat mereka bertanya, apakah aku pun diberi juga? Aku hanya akan menjawab, iya. Meski kenyataannya tidak.
“Ya udah, sini mangkoknya. Suamimu emang keterlaluan, Num. Masa beliin istri sama anaknya daging ayam setahun sekali aja nggak mampu,” gerutunya, sembari merebut mangkuk kosong miliknya, yang baru saja mau aku kembalikan.

Mangkuk bekas sayur lodeh, yang dia berikan beberapa hari lalu. Kalau tahu akan begini, mungkin mangkuk itu aku kembalikan besok saja.
“Coba waktu itu, kamu manut sama pilihan Mbak. Pasti ndak bakal belangsak begini hidupnya. Cuma buat bisa makan ayam aja, sampe harus nunggu diberi orang lain dulu.”
Aku memejamkan mata. Mencoba menahan sesuatu yang bergejolak hebat dalam dada.

“Cukup, Mbak! Mending opor ayam itu, Mbak taro lagi di belanga. Lebih baik aku nggak makan enak, daripada harga diri suamiku diinjak-injak,” tukasku, penuh penekanan.
Lalu pergi tanpa menerima semangkuk opor ayam, yang Mbak Nurma sodorkan. Meski opor ayam itu terlihat sangat menggiurkan.
“Maafkan ibu, Yum. Gara-gara ibu, kamu ndak jadi makan opor,” lirihku, sembari mengusap kedua pipi yang basah.

Bersambung